Bapakku…
November 7, 2005
Di pagi 30 Oktober 2005….merupakan hari yang berbahagia bagiku…karena bertepatan dengan ulang tahunku….
Tak terasa berbilang tahun sudah kulalui…sudah cukup banyak jumlah angka usiaku…tapi di usiaku yang ke 42 ini, mungkin merupakan ulang tahun yang ingin kuhapuskan dari memoriku…
aq ingat betul, pagi itu ibu baru saja melakukan ritual setiap tahunnya, menelponku….dan karena bapak sudah tak dapat berbicara, maka pagi ini tak ada ucapan dari bapa, dan memang tak akan pernah ada lagi ucapan selamat dari bapa….
saat itu…firasatku semakin kuat…tapi aq tetap berusaha menepis pikiran-pikiran burukku itu.
Dengan rasa bahagia, kuambil handuk…aq harus mandi, sebentar lagi teman2 akan datang, kami akan hangout bareng…selesai mandi, walau perasaan tak enak semakin mendera, dan belum sampai aq berganti pakaian…petir itu menyambar dengan tanpa ampun…Garta menelpon…”mba Dina, bapak udah gada…”
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un….hanya kata itu yang sempat terucap dari mulutku…selebihnya aq berlaku seperti robot, hatiku menjerit…tapi aq tak dapat menangis, aq hanya dapat memandang kosong…kusiapkan pakaianku, untuk menghadiri pemakaman bapa tercinta….
Dadaku terasa semakin sesak…aq harus menangis…kuberkabar pada para sahabat…mereka semua menangis…mengapa aq belum juga tersedu…hanya ada air mata yang mengalir tak kurang derasnya…sederas guguran rasa pedihku…
Dengan senyum kami mengantar kepergian bapa, bahkan ibu pun terlihat begitu tegar, sepenuh ketabahan yang dimilikinya, menjadi tambahan kekuatan bagiku…untuk mempersiapkan diri…bahwa pada akhirnya, masa itu akan tiba…
Kupandangi jasad bapa tercinta…tak seperti akan pergi untuk selamanya…bapa hanya tidur…bapa yang kukenal, dengan wajah lembutnya…dengan senyum yang selalu menghiasi wajahnya, masih seperti semula, tetap arif, tak ada yang berubah, hanya karena sakit yang menderanya selama sekitar 3.5 tahun…tubuh bapa menyusut dengan drastis…dari 90 kg, menjadi 43 pada saat kepergiannya…selain itu semua tetap sama…bapa hanya tertidur pulas…memenuhi panggilan sang Khalik…
Selamat jalan bapa,
Selamat jalan eyang nDhut…begitu selalu cucu-cucu memanggilnya, karena tubuhnya yang subur, (Ingatanku menerawang, teringat cerita mba Kuky, ketika berbincang dengan putrinya, “mamah…de’ Ola kangen dengan eyang nDhut yang dulu…”)
Walaupun kini pada saat kepergiannya, tubuh itu tinggal tulang berbalut kulit…tetapi itu tidak sedikit pun mengurangi kelembutan yang dimilikinya….senyum itu tetap menghiasi wajahnya…kelembutan itu tetap memancar dari wajahnya…
Dina ikhlas bapa….
Sekali lagi, selamat jalan bapa…
Dina yakin bapa akan selalu melihat kami dari rumah Allah…
Satu hal yang aq ingat bapa,
Itu pun karena malam ini kepalaku kembali terasa sakit….
Iya, aku ingat…biasanya kalau aq mengeluhkan kepalaku sakit bapa slalu nungguin aq…sambil mengusap-usapkan telapak tangannya yang halus dan lembut di tempat yang sakit, sambil dibacain Asma Ul Husna, tapi paling sering dzikir Hu Allah…sampe aq ktiduran…”prestasi banget, soalnya ga usah pake obat, bisa juga aq tidur”….;D
Kini, ketika sakit kepala itu kembali mendera…aq hanya dapat meringis, sambil sesekali kugigit bibirku….kini kian nyata, kesadaran itu kian menyesakkan…ya…benar, bapa udah pergi…sekarang aq mulai menangis…bukan karena ta ikhlas bapa, tapi karena aq sedih…menyadari, bahwa mulai malam ini, di hari ulang tahunku ini, aq harus dapat mengobati rasa sakitku sendiri, harus berdzikir sendiri…tak ada lagi tangan dengan jemari yang ndut-ndut yang akan meninabobokan aq yang udah segedetua ini….yang selalu bisa mengobati imsomniaku….
Selamat jalan bapak,
dina juga lelah….
dina juga harus istirahat,
Supaya besok-besok…dina bisa nemenin ibu…
Seperti yang selama ini dilakukan oleh bapak…
Dalam perjalanan 47 tahun pernikahan Bapak dan Ibu…
Selamat jalan bapak
Semoga Allah swt melancarkan perjalanan bapak dalam chusnul chotimah…
Semoga Allah swt melapangkan kubur bapak…
Semoga Allah swt memberikan tempat yang mulia buat bapak…
Semoga Allah swt menerima segala amal ibadah bapak
Semoga Allah swt mengampuni segala kesalahan bapak….
Amin…