30 Oktober 2006…
October 30, 2006
Hanya tinggal hitungan menit,
Hanya tinggal hitungan detik….
Memasuki tahun berjalan….
Tak terasa kembali seolah diingatkan pada peristiwa pahit setahun yang lalu…
Seolah film itu diputar ulang
Ketika jasad bapak dimandikan
Ketika jasad bapak dishalatkan…
Ketika jasad bapak dikuburkan…
Perlahan tumpukan tanah ditaburkan,
Perlahan tumpukan tersebut kian menggunduk…
Perlahan jasad bapak menghilang
Tertelan…masuk dalam pelukan tanah dan bumi…
Melakukan perjalanan…
Menuju Rumah Allah…
Mengetuk pintu surga Mu ya Allah….
Bapa masih inget ga kata-kata dina, waktu dina pulang, pada perbincangan kita yang terakhir, tepat seminggu sebelum kepergian bapa, melalui bahasa kalbu, dina mengatakan bahwa dina akan menemani ibu, menggantikan bapa yang udah lelah, yang sudah rindu bertemu Allah…
Ternyata omongan itu belum bisa dina penuhi lho pa…hehe…ma’ap deh bapak…
Sebetulnya, pada saat pertemuanku yang terakhir dengan bapak,
rasa akan kehilangan itu begitu kuat…
mendera sekujur tubuhku….
Memenuhi pembuluh darah dalam tubuhku…
Kupandang bapak yang tergolek lemah
Tanpa daya…begitu renta
Kutatap sorot mata bapak
Begitu kosong….
Begitu jauh
Tak lagi dapat terjangkau….
Tapi dina berharap dengan berlalunya waktu, dina juga udah mulai bisa menata kembali perasaan dina…
Moga-moga setelah ini, dina udah berani untuk sering pulang lagi ke rumah ya pa…
Lebaran ini, merupakan lebaran pertama kami berlima plus menantu dan cucu bapa…dengan sendirinya tanpa kehadiran bapa, karena bapa udah di tempat yang lebih baik, di haribaan Allah swt…amin…
Beberapa hari sebelum pulang untuk berlebaran di Bandung…seperti biasa kita saling berkabar, masalah teknis mo pulang, siapa barengan dengan siapa…begitulah selalu yang terjadi dari tahun ke tahun…hingga tahun ini tradisi memikirkan teknis mudik masih berlaku juga…hanya yang berbeda…mudik kali ini hanya untuk ketemu ibu tercinta…
Kembali kesadaran itu menampar benakku…bahwa tahun ini kami hanya berlebaran bersama ibu tercinta…entah bagaimana aq akan menghadapinya, sampai saat kepulanganku ke Bandung, aq masih belum dapat membayangkan…apalagi ketambahan tahun ini koq ya mas Dian, mas Nang ma Garta janjian kaleee…pada berlebaran bersama mertua masing-masing…
Ada rasa gamang, ada rasa pedih perlahan mengoyak sanubari ini, apa yang bisa kulakukan di lebaran pertama tanpa kehadiran bapa tercinta yang sudah dipanggil menghadap ke pangkuan sang Khalik, hanya aq sendiri yang harus mendampingi ibu… ga pede juga rasanya, hiks…
Kembali rasa pedih itu semakin mengoyak sanubariku… kubayangkan, ibu yang sehari-harinya hanya tinggal seorang diri, tanpa siapapun yang menemani, menjalani hari-harinya sendiri saja…lalu sekarang di hari besar, hari penuh kemenangan, setelah menjalani perjuangan ramadhan selama sebulan penuh, ibu masih juga harus sendiri..menjalaninya…
Akhirnya kepedihan itu mengalir juga dari curahan hati ibu…suatu malam, beberapa hari menjelang kepulanganku… fleksiku berdering…kulihat jendela selularku, siapakah gerangan, tengah malam begini, masih bertelepon ria… kubaca…tertulis ORTU…ada apa gerangan…padahal aq baru saja selesei berbagi cerita dengan ibu…mungkin ada cerita yang masih tertinggal yang belum disampaikan…begitu aq menghibur diriku…sambil kusambut suara ibuku…
Assalam mualaikum ibu..lalu dengan agak terbata, ibu berkata… ibu berharap, mungkinkah ada yang akan pulang juga ke rumah, selain aq…
Duh…jantungku terasa begitu kencang berdetak ada sayatan halus, menoreh dalam sanubariku, mengoyak dinding pertahananku…apa yang harus kulakukan…???
Tak ada yang dapat kulakukan, selain kembali kubersimpuh… kuadukan kepedihanku…
kegalauanku…
kegamanganku…
kepada NYA…
Doaku terjawab…mendekati kepulanganku, kembali ibu meneleponku…ada nada kecerahan dalam untaian kata yang disampaikannya kepadaku… malam lebaran mas Nang dan keluarga sudah akan ada di rumah…terima kasih ya Allah…
Tanggal 30 Oktober 2006 tinggalah hitungan jam…menit…dan detik… seraya bercanda, aq selalu melontarkan joke ku kepada para sahabat…bahwa aq akan membuat poster atau mungkin spanduk, guna mengabarkan bahwa mulai tahun ini, ulang tahunku diundur sehari, jadi 31 Oktober…jadi malah lebih mudah mengingatnya…kan pas akhir bulan aja…haha…hanya lelucon semu…!!!
Aq jadi teringat, adanya persamaan nasibku dengan mba Nungky, bahwa tepat pada hari ulang tahunnya, kakak sulung mba Nungky juga dipanggil menghadap sang Khalik…lalu aku pun teringat akan nasib yang sama pula, yang dialami sahabatku Andre, pada saat dia merayakan ulang tahun anaknya, pada hari dan tanggal yang sama pula dia harus kehilangan istri tercintanya…
Membingungkan, harus senang atau harus sedih…harus tertawa, ataukah harus menangis…pertanyaan itu akan tetap bergulir di benakku, hingga memasuki tgl 30 Oktober 2006 ini….bagaimanakah perasaanku…
Bapak,
Setahun ini, dina lagi banyak tenggelam, sibuk sekolah…tepat seperti cita-cita dina dulu ya pak, dalam bayangan dina sih malah bisa diskusi, sampai begadang-begadang ya pak, seperti jaman dulu yang sering kita lakukan, ntar kalau ketauan ibu, pastiii ibu ngomel, tapi itu semua karena ibu sayang ma kita ya pa, takut kita sakit hehe…ntar ibu juga yang repot…
di sela ‘omelan’ ringannya, ibu tetap membuatkan kudapan dan minuman panas buat teman diskusi kita ya pak…
Semua itu berhenti hanya dalam angan tak kesampaian, mengembara dalam ketinggian asa, dina ga bisa diskusi lagi ma bapa ya, Allah swt menunjukkan kuasanya. Mungkin sudah cukup semua cobaan yang harus bapak jalani ya pak…sehingga Allah saat itu memanggil Bapak…
Bagai kano tak bernakhoda…
Berlayar di laut lepas…
Dalam gemetar aq melangkah
Dalam gamang aq berjalan…
Kugapai asa yang tak kunjung sampai
Hingga penat dalam penantian….
Setahun sudah waktu berlalu
Semenjak kepergian Bapak tercinta…
Baru tahun pertama…begitu aq menghibur diri, normal saja kalau aq masih sering kangen banget, wajar saja kalau aq masih belum terbiasa juga, bahwa jika aq pulang ke rumah, masih suka lupa…mencari bapa…rasanya bapa masih ada bersama kami…tetapi seketika itu juga, aq harus mulai menanamkan pada diriku, bahwa rasa kehilangan itu tak boleh terlalu lama melarutkanku…membenamkanku…menghilangkan akal sehatku…
Biarkan kenangan itu tetap ada…biarkan ingatan indah itu tetap bertahta di benakku…tetapi jangan sampai melarutkanku dalam kesedihan berkepanjangan…begitu yang akan selalu kutanamkan dalam pikiranku…
The show must go on…begitu kata pepatah yang sering didengungkan para sahabat…
Berbekal tekad untuk keluar sesegera mungkin dari lingkaran kesedihan yang berlarut….
Yang kini kan kusimpan hanyalah kenangan indah, akan kebanggaanku menjadi anak Bapak, dan aku pun berharap walau dalam cemas…mampukah aku menjadi anak Bapak yang dapat dibanggakan….
Biarlah pertanyaan itu, tetap membayangiku,
Kan kujadikan kekuatan ‘tuk menyemangati perjalananku yang masih cukup panjang….
Bapak,
Hari ini dina ulang tahun….memang ada yang berbeda untuk tahun ini…itu jelas dan itu sudah pasti…sangat berbeda
Tahun kemarin, walaupun bapak udah ga bisa mengucapkan selamat ulang tahun, asa itu masih kugantungkan setinggi langit…
Tahun ini, dina ulang tahun lagi pak, Alhamdulillah…Allah swt masih memberi kesempatan pada dina….tapi dina harus membiasakan diri, tidak mendengar ucapan dari bapak lagi dan seterusnya…sampai tiba saatnya nanti…kita dipertemukan kembali ya Pak…;))
Pada 30 Oktober 2006 ini, aq terlahir kembali…dalam kesadaran penuh…bahwa begitulah hidup di dunia ini…akan selalu mengalami putaran kehidupan…selalu akan ada yang datang dan selalu akan ada yang pergi…
Sudah setahun bapak pergi…
Biarlah bapak pergi dengan tenang…
Keikhlasan disertai kesadaran itu kini sudah seutuhnya kumiliki…
Semoga aq dapat menjalaninya dengan sebaik-baiknya….
Selamat jalan Bapak tercinta…..
Jakarta, 30 Oktober 2006
dienna pratikto